Dear diary,
Senin ini, seperti biasa aku menemani anakku futsal sepulang sekolah. Meskipun hanya tersisa tiga anggota lagi namun anak-anak TK itu masih bersemangat mengikuti futsal. Mereka terdiri dari dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Oh, empat di tambah Kenzou yang selalu jadi anak bawang di setiap kesempatan.
Selepas futsal, kami berempat pulang naik angkot. Kami berdiri menunggu angkot datang di halte depan sekolah. Kami masuk ke dalam angkot dan duduk di belakang supir. Sebetulnya masih banyak yang kosong, tapi aku memilih di sana saja. Saat kami naik ada seorang ibu dan anak lelakinya sekitar umur 18 tahun dan satu penjual asongan.
Awalnya aku lumayan BT saat angkot mulai melaju. Duuh si emang angkotnya enggak banget. Omongannya kasar. Untunglah menggunakan bahasa Sunda jadi anak-anak tak mengerti betul apa yang di ucapkan. Hingga datang semburan makanan dari arah remaja itu.
Aku melirik sedikit, kemudian datang lagi yang naik dan duduk di sebelah remaja itu. Kemudian tanpa alasan yang jelas remaja itu langsung menendang orang yang baru naik angkot. Sontak pemuda yang baru naik itu kaget dan akhirnya minta pindah duduk ke depan bersama supir.
Dengan sangat menyebalkannya, supir angkot tersebut malah marah-marah lantaran makanan berhamburan di angkotnya. Ibunya segera membereskan makanan yang di sembur anaknya itu. Sekilas aku langsung paham, bahwa remaja itu istimewa. Entah bagaimana si ibu menahan malu akibat yang di timbulkan anaknya. Namun ia terus saja berteriak-teriak. Lalu ibunya menyuruhnya berhenti. Tak tega aku melihatnya.
Aku tak tau kelanjutannya, karena kami harus turun. Sampai di rumah anak-anak bertanya, kenapa kakaknya marah-marah? Aku menjelaskan sebisaku. Alhamdulillah anak-anak mengerti.
Tak terbayang menjadi ibu dari anak yang istimewa itu. Aku bisa merasakan bagaimana sulitnya menjadi ibu tadi. Pasti serba salah. Namun aku melihat ia sangat menyayangi anaknya itu. Oh, sungguh pemandangan yang indah. Tak pernah ada yang salah. Dari sana aku merasa bersyukur, bahwa Allah memberikan anak-anakku kesehatan hingga hari ini. Semoga ibu tadi dapat dengan sabar dan tabah dalam menyayangi anak istimewanya itu. Aamiin.
Saat waktu mengaji tiba, ternyata aku mendapat pesan dari grup WhatsApp untuk menghadiri acara tahlilan. Hari ini nenek salah satu teman Kenzie meninggal tadi pagi. Namun aku belum sempat bertakziah. Sehingga aku pikir untuk datang saja ke pengajian bada ashar.
Akhirnya aku putuskan untuk pergi. Sementara Kenzie dan Naomi tetap di mesjid mengaji. Aku pergi bersama Kenzou. Alhamdulillah, acara selesai, Kenzie pun baru bubar mengaji. Jadi aku masih sempat menjemput mereka.
Pulang mengaji seperti biasanya mereka bermain, sebelum adzan magrib berkumandang. Selesai solat anak-anak ingin makan lagi. Namun Naomi tidak terlalu bersemangat. Setelah makan aku pegang badannya. Ternyata panas 38,°C. Matanya agak merah. Syafakillah kakak Naomi.
Akhirnya aku beri obat penurun panas saja. Sambil di kompres menggunakan air hangat. Alhamdulillah, agak turun sedikit. Sekarang Naomi sudah tidur.
Ya Allah, kasihan sekali anak ini. Saat sakit dia tak bisa bersama orang tuanya karena keadaan. Insya Allah, segera sembuh. Supaya bisa sekolah dan bermain lagi. Syafakillah sayangku . Ponakan onty.
Comments
Post a Comment