Skip to main content

18 Maret 2019

Dear diary,

Senin ini, seperti biasa aku menemani anakku futsal sepulang sekolah. Meskipun hanya tersisa tiga anggota lagi namun anak-anak TK itu masih bersemangat mengikuti futsal. Mereka terdiri dari dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Oh, empat di tambah Kenzou yang selalu jadi anak bawang di setiap kesempatan.

Selepas futsal, kami berempat pulang naik angkot. Kami berdiri menunggu angkot datang di halte depan sekolah. Kami masuk ke dalam angkot dan duduk di belakang supir. Sebetulnya masih banyak yang kosong, tapi aku memilih di sana saja. Saat kami naik ada seorang ibu dan anak lelakinya sekitar umur 18 tahun dan satu penjual asongan.

Awalnya aku lumayan BT saat angkot mulai melaju. Duuh si emang angkotnya enggak banget. Omongannya kasar. Untunglah menggunakan bahasa Sunda jadi anak-anak tak mengerti betul apa yang di ucapkan. Hingga datang semburan makanan dari arah remaja itu.

Aku melirik sedikit, kemudian datang lagi yang naik dan duduk di sebelah remaja itu. Kemudian tanpa alasan yang jelas remaja itu langsung menendang orang yang baru naik angkot. Sontak pemuda yang baru naik itu kaget dan akhirnya minta pindah duduk ke depan bersama supir.

Dengan sangat menyebalkannya, supir angkot tersebut malah marah-marah lantaran makanan berhamburan di angkotnya. Ibunya segera membereskan makanan yang di sembur anaknya itu. Sekilas aku langsung paham, bahwa remaja itu istimewa. Entah bagaimana si ibu menahan malu akibat yang di timbulkan anaknya. Namun ia terus saja berteriak-teriak. Lalu ibunya menyuruhnya berhenti. Tak tega aku melihatnya.

Aku tak tau kelanjutannya, karena kami harus turun. Sampai di rumah anak-anak bertanya, kenapa kakaknya marah-marah? Aku menjelaskan sebisaku. Alhamdulillah anak-anak mengerti.

Tak terbayang menjadi ibu dari anak yang istimewa itu. Aku bisa merasakan bagaimana sulitnya menjadi ibu tadi. Pasti serba salah. Namun aku melihat ia sangat menyayangi anaknya itu. Oh, sungguh pemandangan yang indah. Tak pernah ada yang salah. Dari sana aku merasa bersyukur, bahwa Allah memberikan anak-anakku kesehatan hingga hari ini. Semoga ibu tadi dapat dengan sabar dan tabah dalam menyayangi anak istimewanya itu. Aamiin.

Saat waktu mengaji tiba, ternyata aku mendapat pesan dari grup WhatsApp untuk menghadiri acara tahlilan. Hari ini nenek salah satu teman Kenzie meninggal tadi pagi. Namun aku belum sempat bertakziah. Sehingga aku pikir untuk datang saja ke pengajian bada ashar.

Akhirnya aku putuskan untuk pergi. Sementara Kenzie dan Naomi tetap di mesjid mengaji. Aku pergi bersama Kenzou. Alhamdulillah, acara selesai, Kenzie pun baru bubar mengaji. Jadi aku masih sempat menjemput mereka.

Pulang mengaji seperti biasanya mereka bermain, sebelum adzan magrib berkumandang. Selesai solat anak-anak ingin makan lagi. Namun Naomi tidak terlalu bersemangat. Setelah makan aku pegang badannya. Ternyata panas 38,°C. Matanya agak merah. Syafakillah kakak Naomi.

Akhirnya aku beri obat penurun panas saja. Sambil di kompres menggunakan air hangat. Alhamdulillah, agak turun sedikit. Sekarang Naomi sudah tidur.

Ya Allah, kasihan sekali anak ini. Saat sakit dia tak bisa bersama orang tuanya karena keadaan. Insya Allah, segera sembuh. Supaya bisa sekolah dan bermain lagi. Syafakillah sayangku . Ponakan onty.

Comments

Popular posts from this blog

19 Februari 2019

Dear Diary... Hari ini seperti biasanya aku mengerjakan semua tugas rumah tangga. Sebagai ibu rumah tangga yang kali ini bukan hanya mengurus  dua orang anak laki-laki, tapi juga harus mengurus satu orang anak perempuan. Ya. Anak perempuan itu adalah salah satu keponakan ku yang sejak awal tahun 2019 ini bersamaku. Sedikit cerita, ia pernah putus sekolah karena suatu hal yang terjadi di rumah tangga keluarganya. Namun sekarang telah berakhir. Kemudian aku putuskan mengambil alih tanggung jawab orang tuanya. Keputusan itu di 'amini' oleh suamiku. Alhamdulillah aku bersyukur sekali Pak suami mau menerima keponakanku. Hari ini adalah Minggu kedua gadis kecil itu bersekolah. Ia melanjutkan sekolah di tempat anakku juga menimba ilmu. Saat waktu pulang sekolah tiba, aku melihat sinar matanya yang sayu melihat ke arah ibu-ibu yang juga berkumpul tengah menjemput anak-anak mereka. Mungkin gadis kecil itu merindukan ibunya. Aku paham. Ku peluk sejenak dan memberikan semangat. ...

20 Februari 2019

Dear diary, ku ingin cerita kepadamu....awaass jadi nyanyi tahan boss. Hari ini seperti biasa kerjaan emak-emak rempong yang bangun jam 4.30 wib padahal semalem baru bisa tidur jam 1.30 wib, 'ulala sepet mata' tapi lanjut karena banyak PR menunggu. Dengan mata yang masih mengantuk, selesai solat subuh langsung mamak pergi ke dapur. Oke, cek stok makanan aman. 'yuk mari masak!'. Alhamdulillah anak-anak jam 5 pagi udah pada melek jadi gak usah susah-susah bangunin buat solat. "Kenzie....Naomi.....sarapan" si kecilku Kenzou masih bobo manja. 'Biarin dulu deh mayan bisa ngerjain yang lain sebelum ade bangun'. Selesai membuat sarapan lanjut membuat bekal sekolah. "Ok done pemirsa" Pak suami lantas mengantar anak-anak pergi ke sekolah. Si kecil bangun. Lanjut urusin baby Kenzou. Umurnya emang udah 2.5th tapi aku suka aja panggil dia 'baby' soalnya wajahnya masih kayak bayi. Jadi pengen ngunyel-ngunyel terus. Dia hiburan saat diri meras...

26 Februari 2019

Dear diary, Hari ini kayaknya hari yang rempong. Mulai dari sekolah sampai tangisan baby Kenzou. Super arrggghhh kelakuan si kecil. Tumben. Ok sepeti biasanya pagi-pagi gak jauh-jauh dari nyiapin sarapan para crew-cils , nyiapin buat mandi, ya bajunya, ya bekal sekolahnya. Yuppp pokoknya tiap hari kek gitu. Jadi sebenernya mamak udah mulai biasa, yang gak biasa adalah rewelnya Kenzou hari ini. Duuh tiada hari tanpa nangis kayaknya. Jujur ya, ini tuh gak Kenzou banget. Soalnya biasanya di rumah dia kayak pelawak. Contoh simpelnya kemarin ada aja jawabannya bayi itu waktu mau di marahin dydynya saat ketauan main air. "Ade...kamu main air ya" dydynya hampir marah. Padahal sih nggak juga-ngetes, pura-pura marah. "Ndak, ade gak main air. Ade mau solat" langsung lah dia beneran solat meski tanpa celana panjang. ' Ampuuuun ' Doong seketika dydynya tertawa geli ngeliat kelakuannya. Apalagi pas dililiatin anak bayi itu ngelirik juga memastikan. Setelah ...