Dear Diary...
Hari ini seperti biasanya aku mengerjakan semua tugas rumah tangga. Sebagai ibu rumah tangga yang kali ini bukan hanya mengurus dua orang anak laki-laki, tapi juga harus mengurus satu orang anak perempuan. Ya. Anak perempuan itu adalah salah satu keponakan ku yang sejak awal tahun 2019 ini bersamaku.
Sedikit cerita, ia pernah putus sekolah karena suatu hal yang terjadi di rumah tangga keluarganya. Namun sekarang telah berakhir. Kemudian aku putuskan mengambil alih tanggung jawab orang tuanya. Keputusan itu di 'amini' oleh suamiku. Alhamdulillah aku bersyukur sekali Pak suami mau menerima keponakanku.
Hari ini adalah Minggu kedua gadis kecil itu bersekolah. Ia melanjutkan sekolah di tempat anakku juga menimba ilmu. Saat waktu pulang sekolah tiba, aku melihat sinar matanya yang sayu melihat ke arah ibu-ibu yang juga berkumpul tengah menjemput anak-anak mereka. Mungkin gadis kecil itu merindukan ibunya. Aku paham. Ku peluk sejenak dan memberikan semangat.
"Mi, ayo udah masuk tuh les nya" iya, keponakanku mengikuti les calistung sepulang sekolah. Anak TK B mulai semester genap ini memang baru memulai kegiatan calistung seminggu dua kali sebagai persiapan masuk SD.
Sementara aku melihat anakku bermain dengan anak-anak TK lainnya, aku melihat ke arah kelas. Melihat bagaimana keponakanku di kelas.
"Mi, bisa?" Sesekali aku bertanya.
"Bisa, onty" jawabnya.
Selesai les, kami pulang. Teman-teman Kenzie (anak sulungku) ikut serta. Anak-anak sangat bersenang-senang. Sesekali Naomi memandangi kami para emak-emak mengobrol dan anak-anak lainnya bermain.
Ya. Naomi. Naomi nama gadis itu. Keponakan yang aku sayangi sepeti anak sendiri. Sama seperti keponakan-keponakan lainnya. Namun nasibnya saat ini tak seberuntung keponakan lainnya. Sehingga aku memberikan perhatian lebih saat ini kepadanya.
Hari ini aku melihat sendu di wajahnya. Aku tak ingin ia bersedih sedikit pun. Maka aku alihkan perhatiannya dengan menanyakan pelajaran hari ini dan juga PR yang di berikan gurunya. Alhamdulillah, ketika aku mengecek buku PRnya ia bisa mengerjakannya dan tulisannya pun untuk anak umur enam tahun sudah cukup rapih.
Sepulang teman-teman sekolahnya, Naomi dan kedua anakku tidur siang. Tepat pukul empat sore kami pergi ke TPA untuk mengaji. Naomi belum mau ikut serta, tapi ia hanya melihat & menemani sepupunya saja. Baik. Tidak masalah.
Pulang dari tempat mengaji, kami makan bersama. Setelah makan aku kembali mengecek pekerjaan rumahnya yang belum selesai tadi siang.
"Ok sip! Udah rapih"
Sekarang anak-anak kembali bermain. Sekarang aku melihat Naomi bergembira lagi. Tak ada lagi sendu.
"Semangat terus ya kakak Naomi" gumamku dalam hati.
Hari ini seperti biasanya aku mengerjakan semua tugas rumah tangga. Sebagai ibu rumah tangga yang kali ini bukan hanya mengurus dua orang anak laki-laki, tapi juga harus mengurus satu orang anak perempuan. Ya. Anak perempuan itu adalah salah satu keponakan ku yang sejak awal tahun 2019 ini bersamaku.
Sedikit cerita, ia pernah putus sekolah karena suatu hal yang terjadi di rumah tangga keluarganya. Namun sekarang telah berakhir. Kemudian aku putuskan mengambil alih tanggung jawab orang tuanya. Keputusan itu di 'amini' oleh suamiku. Alhamdulillah aku bersyukur sekali Pak suami mau menerima keponakanku.
Hari ini adalah Minggu kedua gadis kecil itu bersekolah. Ia melanjutkan sekolah di tempat anakku juga menimba ilmu. Saat waktu pulang sekolah tiba, aku melihat sinar matanya yang sayu melihat ke arah ibu-ibu yang juga berkumpul tengah menjemput anak-anak mereka. Mungkin gadis kecil itu merindukan ibunya. Aku paham. Ku peluk sejenak dan memberikan semangat.
"Mi, ayo udah masuk tuh les nya" iya, keponakanku mengikuti les calistung sepulang sekolah. Anak TK B mulai semester genap ini memang baru memulai kegiatan calistung seminggu dua kali sebagai persiapan masuk SD.
Sementara aku melihat anakku bermain dengan anak-anak TK lainnya, aku melihat ke arah kelas. Melihat bagaimana keponakanku di kelas.
"Mi, bisa?" Sesekali aku bertanya.
"Bisa, onty" jawabnya.
Selesai les, kami pulang. Teman-teman Kenzie (anak sulungku) ikut serta. Anak-anak sangat bersenang-senang. Sesekali Naomi memandangi kami para emak-emak mengobrol dan anak-anak lainnya bermain.
Ya. Naomi. Naomi nama gadis itu. Keponakan yang aku sayangi sepeti anak sendiri. Sama seperti keponakan-keponakan lainnya. Namun nasibnya saat ini tak seberuntung keponakan lainnya. Sehingga aku memberikan perhatian lebih saat ini kepadanya.
Hari ini aku melihat sendu di wajahnya. Aku tak ingin ia bersedih sedikit pun. Maka aku alihkan perhatiannya dengan menanyakan pelajaran hari ini dan juga PR yang di berikan gurunya. Alhamdulillah, ketika aku mengecek buku PRnya ia bisa mengerjakannya dan tulisannya pun untuk anak umur enam tahun sudah cukup rapih.
Sepulang teman-teman sekolahnya, Naomi dan kedua anakku tidur siang. Tepat pukul empat sore kami pergi ke TPA untuk mengaji. Naomi belum mau ikut serta, tapi ia hanya melihat & menemani sepupunya saja. Baik. Tidak masalah.
Pulang dari tempat mengaji, kami makan bersama. Setelah makan aku kembali mengecek pekerjaan rumahnya yang belum selesai tadi siang.
"Ok sip! Udah rapih"
Sekarang anak-anak kembali bermain. Sekarang aku melihat Naomi bergembira lagi. Tak ada lagi sendu.
"Semangat terus ya kakak Naomi" gumamku dalam hati.
Comments
Post a Comment