Dear diary,
Hari ini adalah hari malasnya Meywa sekaligus hari terempong judulnya. Titik.
Tadi siang sebenarnya aku merasa malas sekali pergi ke sekolah. Bagaimana tidak, badanku semuanya masih terasa sakit. Rasanya benar-benar membutuhkan tukang pijit. Tapi apalah daya belum jemput anak-anak dan Jumat ini jadwal latihan nari juga di sekolah. Jadi mamak harus ke sekolah jadi instruktur dance. Anggap aja olga (olahraga) yes.
Pulang sekolah Kenzou malah ngajak main ke rumah aa Dimas. Ampun deh, tapi akhirnya aku turuti juga. Itung-itung melepas penat pikirku. Kami pun makan bersama di sana, jazakallah bunda. Perut kenyang, anak-anak senang. Giliran mau pulang, hujan pun mengguyur siang itu. Rencana mau pamit undur diri pun batal. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 wib waktunya untuk mengaji. Tapi anak-anak masih betah. Aku pun mengalah kemudian, karena anak-anak ingin mandi di rumah Dimas.
Jarak 0.3kg harus aku lalui untuk pergi ke rumah dengan berjalan kaki. Membawa baju dan peralatan untuk mengaji anak-anak. Sampai ke rumah temannya itu, eh ada saja yang tertinggal. Iqra. Kenzie tak mau iqra dan buku baca lain, akhirnya mamak mengalah lagi pergi ke rumah untuk membawanya. Deuhh udah kayak setrikaan aja kita bolak-balik.
Pulang ke rumah lihat dapur yang penuh dengan alat makan kotor. Wow, menambah rasa lelah ini menjadi. Aku hanya tersenyum, tanda besok pagi saja aku cucinya. Sungguh rasa malas itu sedang hinggap. Untungnya punya suami yang paham kapan istrinya lelah. Jadi dia cuek aja, meskipun dapur bak kapal pecah. Gak karuan. Ya sudahlah, berhenti sejenak.
Jam 21.00 wib tadi aku hampir tertidur. Namun terlihat DM dari salah satu teman. Ia curhat. Intinya ia sedang sangat sedih dengan ujian yang di timpanya. Anak keduanya terserang lagi bellsphasi. Jika aku jadi dia, belum tentu juga aku dapat melewati ujiannya.
Ya, kita tak pernah tahu kapan Allah akan menguji, dengan cara seperti apa pun kita tak bisa menebak. Kadang sebagai manusia kita 'merasa' bahwa masalah kita adalah yang paling rumit. Padahal belum tentu. Kadang mungkin kita di uji lebih untuk menambah kadar keimanan kita. Kesabaran kita. Segalanya. Hari ini aku belajar lagi bersyukur dari ujian temanku itu. Bahwa saat Allah menitipkan ujian kepada kita, itu sudah satu paket. Anggaplah ujian kita ini sebagai ladang pahala bagi kita yang sabar. Insha Allah.
Sudah jam 21.15 wib tapi Kenzou belum tidur karena mungkin lapar. Maklum di saat orang lain makan, ia malah tertidur. Saatnya orang tidur ia terbangun dan minta makan. Berhubung sudah tidak ada nasi, akhirnya mie promi*na menjadi pilihan terakhir. Saat mamak udah mulai ngantuk, Kenzou malah minta di foto dan ambil video saat makan mie. Dudududu ya anak itu. Ok baik.
Sekarang mari tidur. Night.
Comments
Post a Comment