Skip to main content

11 Maret 2019

Dear diary,

Hari ini aku merasa menjadi orang yang paling bodoh. Aku benar-benar merasa kesakitan. Entah apa yang telah merasukinya. Pastilah karena kurang imannya aku.

Beberapa hari ini suasana hatiku memang sudah tak karuan. Tapi seperti biasanya aku harus menjalani hari-hari secara normal. Meski suasana hatiku tak lagi normal saat ini. Saat kerapuhan menyelimuti hati. Hanya iman yang harus di pupuk.

Hari ini semuanya pecah. Semuanya tumpah. Aku bahkan tak mengenal diriku sendiri. Aku marah semarah-marahnya. Emosiku terpancing. Sumbu amarah yang telah aku pendam akhirnya terbakar. Membakar diriku sendiri. Aku sadar akan emosiku yang meledak hari ini. Bahkan aku tak mau mengakui bahwa  itu adalah diriku sendiri.

Disaat rasa marah yang telah aku pendam selama ini tumpah. Semua menjadi bergejolak. Semua tubuhku sakit sekarang. Lebam-lebam. Akibat ulahku sendiri. Aku benar-benar terluka hingga menyakiti diriku sendiri. Suamiku memelukku erat. Menyuruhku beristigfar. Mengingatkanku akan kekuasaanNya.

Aku tertegun. Sambil isak tangis yang tak terbendung ini, sama sekali tak melirik anak-anak. Aku benar-benar merasa gila hari ini. Mereka memelukku, memelukku sambil menangis. Kini aku terluka bukan akibat ulahku yang terpancing emosi orang itu. Tapi aku terluka karena melihat anakku menangis.

Suamiku menuntunku mengambil air wudhu. Aku solat dan memohon ampunan-Nya atas kekhilafanku hari ini. Sungguh aku menyesal telah meluapkan emosiku berlebihan. Aku kembali beristigfar. Semoga Allah mengampuni kesalahanku.

Ayat-ayat suci itu menenangkan. Setelah aku berhasil mereda emosiku, lantas aku berjanji. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa ini adalah yang kedua dan terakhir. Aku tak akan lagi terpancing suasana buruk yang di berikan lingkungan sekitarku.

Aku berterimakasih karena Allah telah menjodohkanku dengan lelaki yang sabar sepertiku. Hingga ia bisa membantu mengelola emosiku.

Hari ini hari yang melelahkan bagiku. Rasanya aku hanya ingin tertidur. Aku ingin beristirahat dari penat. Hari ini banyak memberiku pelajaran berharga tentang kehidupan. Hari ini aku belajar bahwa ikhlas itu tak mudah, namun bisa dilakukan. Bahwa bersabar adalah pilihan bagiku untuk menjalani semuanya.

Aku ingin tertidur sekarang.

Comments

Popular posts from this blog

19 Februari 2019

Dear Diary... Hari ini seperti biasanya aku mengerjakan semua tugas rumah tangga. Sebagai ibu rumah tangga yang kali ini bukan hanya mengurus  dua orang anak laki-laki, tapi juga harus mengurus satu orang anak perempuan. Ya. Anak perempuan itu adalah salah satu keponakan ku yang sejak awal tahun 2019 ini bersamaku. Sedikit cerita, ia pernah putus sekolah karena suatu hal yang terjadi di rumah tangga keluarganya. Namun sekarang telah berakhir. Kemudian aku putuskan mengambil alih tanggung jawab orang tuanya. Keputusan itu di 'amini' oleh suamiku. Alhamdulillah aku bersyukur sekali Pak suami mau menerima keponakanku. Hari ini adalah Minggu kedua gadis kecil itu bersekolah. Ia melanjutkan sekolah di tempat anakku juga menimba ilmu. Saat waktu pulang sekolah tiba, aku melihat sinar matanya yang sayu melihat ke arah ibu-ibu yang juga berkumpul tengah menjemput anak-anak mereka. Mungkin gadis kecil itu merindukan ibunya. Aku paham. Ku peluk sejenak dan memberikan semangat. ...

20 Februari 2019

Dear diary, ku ingin cerita kepadamu....awaass jadi nyanyi tahan boss. Hari ini seperti biasa kerjaan emak-emak rempong yang bangun jam 4.30 wib padahal semalem baru bisa tidur jam 1.30 wib, 'ulala sepet mata' tapi lanjut karena banyak PR menunggu. Dengan mata yang masih mengantuk, selesai solat subuh langsung mamak pergi ke dapur. Oke, cek stok makanan aman. 'yuk mari masak!'. Alhamdulillah anak-anak jam 5 pagi udah pada melek jadi gak usah susah-susah bangunin buat solat. "Kenzie....Naomi.....sarapan" si kecilku Kenzou masih bobo manja. 'Biarin dulu deh mayan bisa ngerjain yang lain sebelum ade bangun'. Selesai membuat sarapan lanjut membuat bekal sekolah. "Ok done pemirsa" Pak suami lantas mengantar anak-anak pergi ke sekolah. Si kecil bangun. Lanjut urusin baby Kenzou. Umurnya emang udah 2.5th tapi aku suka aja panggil dia 'baby' soalnya wajahnya masih kayak bayi. Jadi pengen ngunyel-ngunyel terus. Dia hiburan saat diri meras...

26 Februari 2019

Dear diary, Hari ini kayaknya hari yang rempong. Mulai dari sekolah sampai tangisan baby Kenzou. Super arrggghhh kelakuan si kecil. Tumben. Ok sepeti biasanya pagi-pagi gak jauh-jauh dari nyiapin sarapan para crew-cils , nyiapin buat mandi, ya bajunya, ya bekal sekolahnya. Yuppp pokoknya tiap hari kek gitu. Jadi sebenernya mamak udah mulai biasa, yang gak biasa adalah rewelnya Kenzou hari ini. Duuh tiada hari tanpa nangis kayaknya. Jujur ya, ini tuh gak Kenzou banget. Soalnya biasanya di rumah dia kayak pelawak. Contoh simpelnya kemarin ada aja jawabannya bayi itu waktu mau di marahin dydynya saat ketauan main air. "Ade...kamu main air ya" dydynya hampir marah. Padahal sih nggak juga-ngetes, pura-pura marah. "Ndak, ade gak main air. Ade mau solat" langsung lah dia beneran solat meski tanpa celana panjang. ' Ampuuuun ' Doong seketika dydynya tertawa geli ngeliat kelakuannya. Apalagi pas dililiatin anak bayi itu ngelirik juga memastikan. Setelah ...